Halaman

Tampilkan postingan dengan label opinion. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label opinion. Tampilkan semua postingan

Selasa, 03 Juni 2014

of Sacha Stevenson and her apparent 'whiteknights'...

I've been following this whole "Agama Jualan" thing since it was first posted (thank you to @TanpaJIL!), although admittedly, I didn't watch until the end due to being grossed out by it. Well, for you guys who haven't seen it, it's basically Sacha Stevenson (a Canadian Youtuber Comedian, who likes to make videos based off of Indonesia's stereotypes) making fun of Islam and Shalat.

Apparently, Sacha had said that the intended meaning of her video was that "politicians in Indonesia often use religion as a tool of the trade" a.k.a using religion for their own benefit, as "religion = business" to them. You know, since it's only a while before the elections.

Well, that's probably a-ok. Yeah, sure, Indonesia's politicians aren't really the brightest bunch.

The problem here? She blatantly degraded and disrespected Islam. For example, she deliberately changed prayers to a shampoo commercial's, amongst other things. This, of course, spurred a nation-wide outrage, but of course, if there are 'opposition', there must be the 'whiteknights', because is there any celeb who doesn't have blind fans?

Since I have a free time and her whiteknights have given me so many laughs, I'll present to you: Comments from the Whiteknights, the Best of the Best!

(this was posted in her apology vid because the original video got taken down real quick.)

Jumat, 21 Februari 2014

St. Valentine's, and most importantly, women.

Kurasa kita semua tahu hari apa 14 Februari itu. Hanya sedikit—kalaupun ada—kalangan yang tidak mengerti hari apa hari itu. Yup, hari kasih sayang terkenal sedunia, St. Valentine’s day. Kultwit ini membahas tentang ‘dark past’-nya St. Valentine’s day, yang pastinya belum diketahui begitu banyak orang.

Sebenarnya, apa St. Valentine’s Day itu? Katanya sih, hari kasih sayang. Tapi, ‘masa, hari kasih sayang dibatasi sehari itu aja? Terus hari lainnya (surprise, setahun kan, 365 hari!) hari apa dong?

Katanya, cuma hari buat merayakan sayang-sayangan aja. Katanya sih, “Kan, juga cuma mainan. Nggak ada salahnya ngerayain. Habis, nanti dikiranya ketinggalan jaman.” Wih, banyak deh alasannya. Padahal nih, faktanya, tingkat penjualan kondom dan penyewaan hotel hari itu... meningkat drastis! Bahkan hingga 500% lebih banyak daripada tingkat penjualan biasanya (berita ini-pun baru di Pontianak! Di Jogja apalagi?).

Hari yang katanya “nggak ada salahnya ngerayain” dan “super harmless” ini ternyata hari maksiat, ya! Surprised already?

Nggak ada salahnya sayang sama orang. Tapi, sayang sama orang kan, nggak usah di lihat-lihatin di hari itu aja. Masa’ mau sayang Ibu cuma pas Hari Ibu? Nggak juga, kali!
Mumpung sampai sini, kukasih tahu nih:

Women are judged with their past in mind, and, on the contrary, men are judged by their future. If women easily gave away their pride, what would they have left?

Perempuan itu yang dinilai dari masa lalunya. Perempuan yang sudah terkenal ‘gampangan’, pasti dinilai buruk—bahkan lebih buruk dari sampah—oleh masyarakat. Sedangkan, laki-laki... yah, asalkan kaya juga pasti nanti ada yang mau, nggak peduli masa lalunya seperti apa.

Harga diri perempuan itu sesuatu yang nggak bisa ditukar dengan apapun. Masa’, belum nikah sudah mau memperlihatkan aurat?

Sebenarnya aku nggak suka kalau perempuan dipanggil ‘sekenan’, karena perempuan bukan barang. Tapi pastinya, kalau kau sudah berani membuang what little pride yang masih tersisa (setelah berpacaran) hanya untuk kesenangan sesaat semata, masa depanmu bagaimana? Apa yang bisa kau berikan kepada suami-mu nanti?

Sebagai perempuan, aku, jujur saja, benci terhadap perempuan yang dengan mudahnya berteriak-teriak, menjerit-jerit di tempat umum, hanya untuk mencari perhatian. Apalagi yang dengan oke-nya disentuh-sentuh oleh lawan jenisnya. Melihatnya saja sudah mual; sebenarnya apa yang bisa didapat? Jadi terkenal?

Kau tahu, laki-laki itu, meskipun luarnya shallow, mereka juga pakai otak kalau mau mendapat yang diinginkan. Mungkin luarnya terlihat ter-wow oleh cewek-cewek yang dengan mudahnya membuka aurat, tapi dibelakang, mereka mengejek-ejek bagaikan mereka orang paling suci sedunia, yang paling berhak men-judge orang lain. Surprise guys, you’re no better!

Kurasa sampai sini dulu (^q^) I’ll start raging otherwise.


Kalau mau membaca lebih banyak, I recommend buku Udah, Putusin Aja! buatan Ustadz Felix Siauw. Pretty art and awesome writing (plus, epic title!), what more could you ask for? Go grab it, here and now!

Minggu, 29 September 2013

#Miras dijual bebas | Minimart dan supermarket, sama saja.

Minimart ada dimana-mana; belanja dari minimart sudah merupakan hal biasa bagi masyarakat, adults and children alike.

Celakanya, di majoritas Minimart dan Supermarket yang menjual miras dengan bebas, tak ada label [21+] atau apapun yang berbau warning alkohol. Sedih memang; para pembelinya bahkan tak dimintai keterangan identitas maupun KTP atau ID Card yang lain.

Seperti yang diketahui umumnya, miras ialah minuman memabukkan yang telah diharamkan di Islam. Selain itu, miras merupakan salah satu hal besar yang merusak generasi pemuda sekarang.

Siswa-siswi berpesta miras, penggeledahan dan penemuan miras oplosan (yang tentu saja membahayakan kesehatan) di balik siswa dan siswi yang kelak, apabila tak ditolong, akan hancur masa depannya.

Salah satu sebab ini terjadi kurasa karena media publik yang (setelah terpengaruh budaya barat) menggampangkan penggunaan alkohol tak terkendali.

Wine, whisky, Vodka... banyak lagi jenis-jenis anggur/alkohol lainnya yang penggunaannya seperti sudah biasa di film-film dari barat (apalagi yang seperti mempromosikan alcohol dan drug abuse, terkadang film horror yang sangat digemari dan terkenal di kalangan pemuda/pemudi).

Terekspos kepada media-media barat sejak dini tentunya membangun mindset hancur seperti diatas. Penggunaan rokok-pun seperti hal yang biasa, padahal tentunya komposisi rokok yang mematikan merupakan pengetahuan umum.

Penyuluhan-penyuluhan di sekolah harusnya diperbanyak, dan pemerintah juga mengkondisikan agar media-media barat yang majoritas buruk dapat di blokade sehingga tak masuk dan menghancurkan negara ini.

Say no to Miras; it (miras) does, in fact destroy your future.

Sabtu, 28 September 2013

Your Opinion Matters! | Sometimes, teachers needs to hear our voices, too.

Guru mengemukakan opini, siswa mengangguk. Inilah common occurence di sekolah, baik jenjang SD, SMP, SMA, bahkan terkadang hingga kuliah. Apa yang dikatakan sang Guru maupun dosen dicerna mentah-mentah, tanpa di proses benar-salahnya dengan logika ataupun hati.

Guru mengangguk saat siswa memberikan opini; sesuatu yang sangat jarang. Paling tidak, itulah yang kusimpulkan dari observasiku semenjak naik ke bangku SMP.

Setiap siswa, baik yang muda maupun yang tua, memiliki opini yang berbeda-beda. Yang muda mungkin masih mendapat influence dari orang-orang dewasa, sedangkan yang cukup tua dapat membangun opini sendiri--tapi, tak menutup kemungkinan ada pula yang membiarkan mass media menyetir dan meng-influence segala opini mereka terhadap sesuatu.

Semua orang bebas memiliki opini seperti apapun. Di negara demokratis seperti Indonesia ini, seharusnya siapapun boleh berdiskusi dan mengemukakan pendapat.

Tapi, yang kulihat, di beberapa kasus, yaitu guru-guru menutup kemungkinan siswa untuk beropini.

Memberikan contoh real, kebanyakan guru malah tak menganggap apapun yang dikatakan siswa-siswi puberty penting dan worth untuk didengarkan.

"Paling cuma passing mood saja. Nanti juga berubah lagi. Biasalah, anak-anak labil bin ambigu ABG."

Sesungguhnya ini sangat disayangkan. Sebagai siswa, yang mungkin mengalami berbagai macam event, melihat bagaimana kelakuan remaja zaman sekarang, dan bahkan mungkin ter-bully, tentu mereka punya banyak, banyak sekali hal yang ingin mereka sampaikan.

Beberapa mungkin bisa menuangkannya ke kertas atau social media. Bagaimana dengan yang lebih comfortable berbicara ke orang lain? Yang tidak pede dengan tulisannya?

Kurasa disinilah peran guru. Orangtua memang tempat kita dapat menuangkan apapun, tapi bagaimana jika orangtua itulah permasalahan sang siswa?

Ada beribu-ribu siswa yang ingin opini-opini dan cerita-cerita mereka didengarkan.

Teachers, please hear our calls. Not all of us talks about 'galau pacar' everday.